Menu

Mode Gelap

Hukum · 29 Mei 2024 18:39 WIB ·

Korban TPPO Modus Jual Ginjal Jaringan Internasional Terima Restitusi


 Korban TPPO Modus Jual Ginjal Jaringan Internasional Terima Restitusi Perbesar

Bekasi – Sebanyak 24 korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) modus jual organ ginjal jaringan internasional menerima uang ganti rugi atau restitusi senilai Rp799.542.000 berdasarkan hasil putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap.

Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Bekasi Dwi Astuti Beniyati mengatakan uang restitusi tersebut dibebankan kepada pelaku atas kerugian materiil dan immateriil yang diderita korban atau ahli waris berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Cikarang pada 5 April 2024.

“Jadi masing-masing korban menerima uang restitusi senilai Rp33.314.250,” katanya di Cikarang, Rabu (29/5/2024)

Ia mengatakan penyerahan uang restitusi ini merupakan pertanggungjawaban pelaku tindak pidana sehingga membantu proses pemulihan korban dari penderitaan akibat dari Tindak Pidana Perdagangan Orang.

Kasus TPPO tersebut ditangani Kejaksaan Negeri Kabupaten Bekasi yang didaftarkan ke Pengadilan Negeri Cikarang melalui perkara nomor 501/Pid.Sus/2023/Pn.Ckr dengan terdakwa Hanim alias Teguh dan kawan-kawan.

Perkara TPPO ini berupa perdagangan organ tubuh ginjal oleh 15 orang terdakwa. Seluruh korban dikumpulkan di rumah penampungan yang berlokasi di wilayah Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi sebelum menjalani operasi pengangkatan hingga penjualan ginjal di Kamboja.

“Penyerahan restitusi di Kejari Kabupaten Bekasi ini adalah yang kedua kalinya. Sebelumnya dua orang korban perkara TPPO juga menerima restitusi pada 17 Mei 2022 di Kejaksaan Agung,” ucapnya.

Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat Ade Tajudin Sutiawarman menyatakan perkara TPPO merupakan bentuk perbudakan manusia di era modern yang menjadi salah satu perlakuan terburuk dari pelanggaran harkat dan martabat manusia.

“Bertambah maraknya masalah perdagangan orang di berbagai negara, termasuk Indonesia dan negara-negara berkembang lain telah menjadi perhatian Indonesia sebagai bangsa, masyarakat internasional, dan anggota organisasi internasional, terutama Perserikatan Bangsa-Bangsa,” katanya.

Ade juga menyatakan TPPO memiliki dampak negatif yang merugikan korban, melibatkan konsekuensi bersifat fisik, psikis, dan sosial ekonomi. Korban kerap mengalami trauma fisik akibat kekerasan atau eksploitasi yang mereka alami.

Secara psikologis, mereka mengalami gangguan mental, kecemasan, dan stres pasca-trauma yang signifikan. Selain itu juga dampak sosial ekonomi yakni kerugian kehilangan pekerjaan, pendidikan, dan serta reputasi sosial.

“Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk membantu memulihkan korban TPPO adalah melalui mekanisme restitusi,” kata dia.

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Terjerat Pinjol Karyawan Pabrik di Batam Mencuri 143 Ponsel Milik Perusahaan

16 Juni 2024 - 10:39 WIB

Jelang Putusan, Kerabat Terdakwa Rudy Dermawan Muliadi Belum Kelihatan di Persidangan

7 Juni 2024 - 18:02 WIB

Polres Bintan Periksa Mantan Pj Walikota Tanjungpinang Sebagai Tersangka

7 Juni 2024 - 17:12 WIB

Kawal Kasus Vina Cirebon, Polda Jabar Bentuk Tim Asistensi

7 Juni 2024 - 11:33 WIB

Polda Kepri Gerebek Apartemen Batam Diduga Produksi Sabu Cair

28 Mei 2024 - 09:03 WIB

Kasus Pembunuhan Vina, Polisi Ralat Soal 3 Buron, Pegi Tersangka Terakhir

26 Mei 2024 - 18:43 WIB

Trending di Hukum